Bambang Wisanggeni Akui Kesalahan, Minta Maaf Kepada Dzurriyat Kesultanan Banten

SERANG - Ratu Bambang Wisanggeni (BW) yang mengaku-mengaku sebagai Sultan Banten ke-18, telah terselesaikan. Dirinya meminta permohonan maaf kepada Forum Dzurriyat Sultan Banten(FDKB) pada hari Jumat tanggal 7 September 2017 lalu.

Disurat tersebut, BW menanda tangani Surat Pernyataan Perdamaian atas kesadaran diri untuk memohon maaf kepada seluruh Dzurriyat Kesultanan Banten dan Para Kasepuhan di Banten.

"Atas kegaduhan yang selama ini terjadi, dengan menyebut sebagai Sultan Banten Ke 18 mohon di maafkan. Saya siap bergabung kedalam lembaga Pemangku adat Kesultanan Banten dibawah kepemimpinan H. Tubagus Abbas Wasee," ungkap BW saat menyatakan pernyataan permohonan maaf, dengan menanda tangani di depan, Ketua Advokasi Kesultanan Banten, Tubagus Amrie Wardhana, Senin(23/9/2019).

Dalam surat yang di tanda tangani oleh BW memuat 3 diktum. Yang pertama bahwa, BW tidak akan lagi memakai gelar dengan sebutan Sultan Banten ke-18. Kedua, BW mengakui hasil kasasi Mahkamah Agung (MA) no 107 K/Ag/219, pada tanggal 12 February 2019.

Dan Ketiga, BW siap bergabunga bersama Lembaga Pemangku Adat Kesultanan Banten. Demi menjaga kelestarian, dan pengembangan budaya wisata di Banten.

Sementara itu, Ketua Advokasi Kesultanan Banten, Tb. Amrie Wardhana mengaku, menyambut baik dan mengapresiasi keputusan dan pernyataan dari Bambang Wisanggeni tersebut.

"Semoga ini mengakhiri semua polemik yang terjadi di Kesultanan Banten. Hal ini, bisa menjadi pembelajaran hukum bagi siapapun yang mencoba-coba menyebut, mengangkat, atau mendeklarasikan dirinya sebagai Sultan Banten. Karena fakta hukum kesultanan Banten itu sudah terhapus sejak tahun 1808, serta kejadian ini tidak terulang kembali pada masa akan datang," pungkasnya.


    Berita Terkait