Begini Cerita Penjual Nasi Uduk Yang Berjuang Melawan Kanker Dengan JKN KIS

SERANG - Siti Hudaefah (42) warga Lingkungan Cimerak, Kelurahan Kebonsari, kecamatan Citangkil, Kota Cilegon yang sehari-hari bekerja sebagai penjual Nasi uduk mengaku sangat terbantu dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diselenggarakan BPJS Kesehatan.

Pasalnya, pada Tahun 2016 lalu, dirinya harus terbaring hingga mengalami koma di rumah sakit karena menderita kanker serviks yang diidapnya.

Siti menceritakan sejak tahun 2014 silam, ia sudah mendaftarkan diri dan keluarga sebagai peserta JKN-KIS. Hal itu dilakukan lantaran, sebagai tindakan antisipasi bila tiba-tiba ada anggota keluarga yang sakit, mengingat saat itu Ia dan Suami belum mempunyai pekerjaan yang tetap.

Benar saja, pada bulan Agustus 2016 lalu, dirinya didiagnosa oleh dokter menderita penyakit Sinus dan menjalani rawat inap selama dua hari. Selang beberapa bulan kemudian ujian berat kembali menimpa dirinya karena didiagnosa menderita kanker serviks, dan harus menjalani rujukan operasi selama 9 hari di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta Barat.

"Alhamdulillah selama operasi dua kali di Rumah Sakit Dharmais, tidak ada biaya sedikit pun, saya hanya menunjukan kartu dari BPJS Kesehatan langsung dioperasi dipermudah semuanya. Apa jadinya kalo saya gak punya Jaminan Kesehatan, mungkin udah pasrah saja," katanya saat di temui di kediamannya, Senin (21/10/2019).

Ia mengaku, pelayanan pasca operasi kanker serviks saat itu, dirinya harus menjalani program radiasi selama 28 kali dilakukan setiap hari dan juga Kemoterapi untuk pemulihan. Bahkan hingga kini, Siti harus kontrol rutin selama 6 bulan sekali.

"Saya sangat terbantu sekali dengan program JKN-KIS ini, gak kebayang kalo saya gak punya kartu dari BPJS kesehatan, banyak biaya yang harus dikeluarkan hingga ratusan juta rasanya, Alhamdulillah terbantu sekali dengan BPJS Kesehatan," jelasnya.

Saat ini, ia tinggal bersama 3 (tiga) orang anaknya yang sedang menimba ilmu pendidikan. Sementara suaminya telah meninggal sejak tahun 2017 lalu.

Diakhir pembicaraan, ia berharap kepada BPJS Kesehatan untuk lebih ditingkatkan dalam hal pelayanan saat dirumah sakit, namun Siti mengaku walaupun kelas 3 tetap dilayani dengan baik.

"Saya berharap agar pelayanan BPJS Kesehatan lebih dtingkatkan lagi, terutama pelayanan kepada peserta saat dirumah sakit. Saya ikut BPJS Kesehatan peserta mandiri, walaupun kelas 3 dilayani dengan baik, Alhamdulillah tiap bulan saya gak pernah telat bayar iuran BPJS Kesehatan," ujarnya.(Adv)


    Berita Terkait