Gelar Bedah Buku, Wenry Ajak Bumikan Pancasila

SERANG - Memperingati Harkitnas dan 21 tahun reformasi, Himpunan Mahasiswa Hukum Universitas Bina Bangsa gelar bedah buku bersama mahasiswa, sejarawan dan budayawan Banten.

Terlihat ada 5 pemateri diantaranya, Wenry Wanhar selaku penulis buku Lelaki Di Tengah Hujan, Ken Supri (Jurnalis), Radjimo S. Wijono (Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia) Cabang Banten, Peri Sandi (Budayawan), Aip Rohadi (Kepala Perpus Uniba).

Buku Lelaki Di Tengah Hujan terlihat menceritakan sebuah perjuangan aktivis dahulu dalam memperjuangkan demokrasi. Menurut Wenry, jika dilihat pada situasi hari ini, demokrasi yang dipraktekan sekarang tidak cocok pada bangsa Indonesia, sistem yang kita bangga yang dianut oleh negara bagian barat.

"Buktinya untuk memilih pemimpin negeri, orang kok sampai hati merendahkan manusia satu sama lainnya, bagi saya itu hal yang aneh," ungkapnya.

Wenry menegaskan, pada perkembangan teknologi saat ini, mahasiswa jangan melupakan akar sebagai manusia dan bangsa ini.

"Kita harus bangga dengan ajaran leluhur kita, di Banten ada baduy, Kalau kita belajar pada orang-orang baduy yang primitif, tidak sekolah tapi mereka tidak merusak alam dan lebih beradab," ujarnya.

Tambah Wenry, pergerakan mahasiswa pada era 90-an, mereka mengkritik presiden bukan hanya sekedar mengkritik, tapi menawarkan tatanan baru dalam bernegara.

"Kita saat ini harus membumikan pancasila, agar pancasila tidak kehilangan sila-silanya. Begitupun dalam Harkitnas ini kita harus bangkit bahwa negeri kita masih terpuruk dan masih bangkit seperti harkitnas pada zaman Boedi Utomo," ungkapnya.

Sementara, Recky Pamungkas Ketua HIMAKUM mengatakan, acara bedah buku tersebut untuk mengingat kembali bahwa mahasiswa mempunyai tanggung jawab sosial serta peran mahasiswa tidak terlepas dari perjuangan rakyat untuk mencapai masyarakat adil dan makmur.

"Maka dari itu bedah buku Lelaki Di Tengah Hujan ini kami selenggarakan untuk mengembalikan ingatan perjuangan yang belum selesai, rakyat sumbernya pancasila, dari rakyat datangnya pancasila, kepada rakyat pancasila dikembalikan," ungkapnya. (Nahrul/red)


    Berita Terkait