Sebarkan Semangat Konservasi, 12 DPTN Ujung Kulon Selenggarakan Perayaan "Farmers Field Day 201

PANDEGLANG– Masyarakat 12 desa penyangga Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Otoritas Balai TNUK, Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang dan WWF-Indonesia Ujung Kulon Project menggelar acara Farmers Field Day 2019 di Kampung Cikawung, Desa Ujungjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten pada Selasa-Rabu (23-24/4/2019). Acara Farmers Field Day ini diadakan sebagai ajang penyebaran informasi kepada publik mengenai kegiatan pertanian berbasis ekologis melalui kegiatan sekolah lapangan (SL) yang dilakukan oleh masyarakat di 12 desa penyangga.Wilayah penyangga TNUK merupakan wilayah yang mempunyai peran sangat penting dalam menjaga dan melestarikan hutan.

Masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar hutan memanfaatkan apa yang ada di alam sebagai sumber penghidupan mereka. Kedua belas desa yang berada di kecamatan Sumur dan Cimanggu sudah melakukan SL sebagai kegiatan pendidikan mengenai sistem pertanian berbasis ekologis. Kedua belas desa tersebut sudah melakukan 5 SL; Sekolah Lapangan Pertanian Ekologis (SLPE), Sekolah Lapangan Agroforestri (SLAF), Sekolah Lapangan Lumbung Pangan Hidup (SLLPH),Sekolah Lapangan Pengelolaan Ternak Kerbau (SLPTK), dan Sekolah Lapangan Madu.

Pihak WWF-Indonesia Ujung Kulon Project Leader Kania mengatakan, pihaknya berharap dengan adanya sekolah Lapangan desa penyangga TNUK bisa memahami dan menyadari bagaimna pentingnya menjaga ekosistem desa mereka sediri.

“Kami berharap melalui kegiatan sekolah lapangan ini masyarakat di 12 desa penyangga TNUK dapat memahami dan menyadari pentingnya menjaga ekosistem di desa mereka secara sukarela. Kami juga berharap ke depannya masyarakat dapat secara swadaya melanjutkan kegiatan dan proses sekolah lapangan ini dengan atau tanpa dampingan,” kata Kurnia Khairani, WWF-Indonesia Ujung Kulon Project Leader.

Farmers Field Day (atau Hari Temu Lapang Petani) ini selain untuk menginformasikan dan mempromosikan produk hasil kegiatan sekolah lapangan, juga merupakan ajang tempat

para pemandu dan peserta sekolah lapangan berinteraksi dengan warga lainnya untuk mensosialisasikan peran sekolah lapangan dalam menjaga ekosistem desa dan ekosistem kawasan.

Diberi judul Ujung Kulon Festival, Farmers Field Day tahun ini dikemas dalam

bentuk seni pertunjukan seperti Tari Rengkong, Tari Lesung, Pencak Silat, Gondang, Kuda Lumping, dan Calung. Pertunjukan ini tidak hanya dikemas untuk hiburan semata namun mengandung pesan konservasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan desa yang secara langsung dan tidak langsung berkontribusi pada kelestarian ekosistem kawasan TNUK.

Kepala Balai TNUK, Ir. Anggodo juga turut menyampaikan dukungan dan harapan terhadap pelaksanaan Field Day, menurutnya ekosistem hutan TNUK sangat terbantu jika ekosistem penyangga di sekitarnya terjaga dengan baik, ia juga berharap masyarakat TNUK bisa berpartisipasi aktif agar kawan TNUK menjadi kawasan yang bersinergi dan harmonis.

“Kami sangat mendukung dan menaruh harapan besar pada kegiatan Field Day yang diselenggarakan oleh masyarakat desa penyangga TNUK.Ekosistem hutan di TNUK akan sangat terbantu jika ekosistem desa penyangga di sekitarnya terjaga dengan baik, apalagi dilakukan melalui partisipasi aktif dari masyarakat desa itu sendiri. Partisipasi aktif dari masyarakat khususnya masyarakat di kawasan penyangga, merupakan salah satu tujuan dalam pengelolaan kawasan TNUK yang bersinergi dan harmonis, sesuai dengan tujuan kami yaitu “Masyarakat Ngejo, Leweungna Hejo” yang artinya jika masyarakat sejahtera, maka hutan Ujung Kulon pun akan Lestari”, kata Ir. Anggodo.

Pemandu yang juga anggota perwakilan Forum Komunikasi Jaringan Desa Penyangga TNUK dari Desa Cibadak bernama Dace menyatakan pengalamannya selama mengikuti kegiatan sekolah lapangan di 12 desa penyangga TNUK.

“Saya merasa senang dan bangga bisa bantu menggelar acara Field Day ini. Selain itu, melalui sekolah lapangan yang saya ikuti, saya berjanji membangun desa di kawasan penyangga TNUK menjadi lebih baik lagi dan berkelanjutan,” ujar Dace.

Pesan dan semangat konservasi ini akan lebih mengena kepada warga dan khalayak yang lebih luas jika disampaikan secara langsung oleh pelaku konservasi seperti para pemandu

sekolah lapangan. Dengan dibalut gelaran seni budaya, bukan hanya pesan konservasi lingkungan saja yang tersampaikan, namun juga pesan dan tindakan nyata pelestarian budaya khas Ujung Kulon. (Andre/red)


    Berita Terkait